News Feed :
Showing posts with label Media selektif. Show all posts
Showing posts with label Media selektif. Show all posts
01:363 Komentar
Media selektif dan diferensial digunakan untuk mengisolasi atau mengidentifikasi organisme tertentu.
Media selektif dan diferensial

Media selektif memungkinkan beberapa jenis organisme untuk tumbuh, dan menghambat pertumbuhan organisme lain. Selektivitas dicapai dengan beberapa cara. Sebagai contoh, organisme yang memanfaatkan gula sebagai satu-satunya sumber karbon dapat dipisahkan dengan menambahkan gula dalam medium. Di sisi lain, penghambatan selektif beberapa jenis mikroorganisme dapat dicapai dengan menambahkan zat pewarna, antibiotik, garam atau inhibitor spesifik yang mempengaruhi metabolisme atau sistem-sistem enzim organisme. Misalnya, media yang mengandung potassium tellurite, natrium azida atau thallium asetat (pada konsentrasi 0,1-0,5 g / l) akan menghambat pertumbuhan bakteri Gram-negatif. Media dilengkapi dengan penisilin (5-50 unit / ml) atau violet kristal (2 mg / l) akan menghambat pertumbuhan bakteri Gram-positif. Selain itu Tellurite agar digunakan untuk mengidentifikasi organisme Gram-positif.

Media Diferensial digunakan untuk membedakan organisme atau kelompok organisme yang terkait erat. Karena adanya zat pewarna atau bahan kimia tertentu di media, organisme akan menghasilkan perubahan karakteristik atau pola pertumbuhan yang digunakan untuk identifikasi atau diferensiasi.

Derikut Beberapa Media selektif dan diferensial yang Umum digunakan:

Mannitol salt agar

mannitol salt agar atau disingkat MSA (agar garam manitol )merupakan media selektif dan diferensial untuk identifikasi staphylococcus aureus. Media ini mengandunng garam natrium klorida 7,5% sehingga media ini menjadi media selektif. Karena sebagian besar bakteri tidak dapat tumbuh pada konsenterasi garam7,5% kecuali staphylococcus . Selain itu MSA mengandung manitol dan indikator PH phenol red yang membuat media ini menjadi media diferensial. Staphylococcus Aureus akan menghasilkan koloni kuning dengan zona kuning karena dapat memfermentasi manitol menjadi asam yang kemudian merubah warna indikator phenol red dari merah menjadi kuning, sedangkan Staphylococcus jenis lainnya menghasilkan koloni merah muda kecil atau koloni merah dengan tidak ada perubahan warna medium karena tidak dapat memfermentasi manitol.

Eosin metilen biru agar

Eosin metilen biru agar merupakan media diferensial digunakan untuk deteksi dan isolasi patogen Gram-negatif usus (fecal bacteria). Kombinasi eosin dan metilen biru yang digunakan sebagai indikator dan memungkinkan diferensiasi antara organisme yang memfermentasi laktosa dan yang tidak memfermentasi laktosa. Sukrosa juga termasuk didalam medium ini karena anggota tertentu dari Enterobacteria atau kelompok coliform lebih mudah memfermentasi sukrosa daripada memfermentasi laktosa. Selain itu metilen biru bertindak sebagai inhibitor untuk organisme Gram-positif.

Bakteri E coli merupakan Fermentor kuat laktosa sehingga menghasilkan koloni ungu gelap dengan kemilau hijau metalik, hal ini disebabkan besarnya kuantitas asam (yang dihasilkan dari fermentasi) sehingga mengendapan zat pewarna di atas permukaan agar.
Bakteri coliform lain seperti Enterobacter aerogenes memfermentasi laktosa lebih lambat sehingga hanya menghasilkan koloni merah muda ke unguan.
Bakteri non-fermentasi menghasilkan koloni tanpa warna atau terlihat trnasparan.

MacCONKEY'S AGAR

MacConkey agar adalah medium kultur yang dirancang untuk menumbuhkan bakteri Gram-negatif dan membedakan mereka berdasarkan kemampuan memfermentasi laktosa.
Media ini berisi garam empedu (untuk menghambat sebagian besar bakteri Gram-positif), pewarna kristal violet (yang juga menghambat bakteri Gram-positif tertentu), pewarna neutral red (sebagai PH indikator untuk mengetahui adanya fermentasi laktosa), laktosa dan pepton.

Pada dasarnya bakteri enterik dipisahkan ke dalam dua kelompok:
a). Coliform basil menghasilkan asam dari fermentasi laktosa danEscherichia coli menghasilkan kuantitas asam lebih banyak dibandingkan spesies coliform yang lain. hal ini menjadikan medium di sekitar pertumbuhan juga akan berubah menjadi merah. Selain itu pengaruh asam juga menyebabkan terjadinya pengendapan garam empedu yang diikuti penyerapan pewarna neutral red. Sehingga Koloni bakteri akan berwarna merah pada permukaannya.
b). Disentri, tifoid, dan paratifoid batang tidak memfermentasi laktosa, maka tidak menghasilkan asam. Maka Koloni akan terlihat tidak berwarna atau transparan.
02:305 Komentar
Hemolisis (atau haemolysis dalam bahasa Inggris) adalah kerusakan sel darah merah. Dalam dunia mikrobiologi hemolisis digunakan untuk mengklasifikasikan mikroorganisme tertentu, dengan cara mengamati Kemampuan koloni bakteri untuk menginduksi hemolisis bila ditanam pada agar darah (blod agar). Cara tersebut sangat berguna dalam mengklasifikasikan spesies streptokokus. Sebuah zat yang menyebabkan hemolisis adalah hemolisin.

Blod agar atau agar darah biasanya dibuat dari Tryptic Soy Agar atau Columbia Agar base dengan darah domba 5%. atau bisajuga darah Kelinci atau kuda dapat digunakan untuk pertumbuhan organisme yang membutuhkan NAD, seperti spesies Haemophilus. Pengunaan darah manusia tidak disarankan karena kemungkinan paparan patogen melalui darah manusia seperti HIV atau hepatitis.




Interpretasi dari Hemolisis pada Blod agar plate

Untuk membaca reaksi hemolitik pada lempeng Blod agar (agar darah), petri harus mengangkat ke sumber cahaya dan diamati dengan cahaya yang datang dari belakang (cahaya yang ditransmisikan).

Ada 3 jenis hemolisis yaitu beta hemolisis (β), alpha hemolisis (α), dan gamma hemolisis (γ)

Beta hemolisis (β) atau biasa disebut hemolisis total, didefinisikan sebagai lisis seluruh sel darah merah. Sebuah zona yang jelas, mendekati warna dan transparansi media dasar, mengelilingi koloni.
Banyak spesies bakteri menghasilkan toksin atau racun yang mampu menghancurkan sel-sel darah merah. Beberapa spesies menghasilkan beberapa racun atau menampilkan berbagai tingkat beta hemolisis. Salah satu contoh adalah strain sesekali Streptococcus pyogenes yang hanya menghasilkan hemolisin yang labil oksigen (anaerob fakultatif) yang disebut "streptolysin O". Dengan kata lain, hemolisin hanya aktif dalam kondisi oksigen rendah. Hemolisis dapat ditunjukkan dengan teknik pour plate atau teknik overlay agar, atau inkubasi dalam lingkungan anaerobik. Salahsatu cara sederhana dan mudah untuk menghasilkan kondisi anaerob pada plate agar adalah "menusuk" loop inokulasi secara vertikal ke dalam agar setelah mengores.
(Kebanyakan strain Streptococcus pyogenes juga memproduksi oksigen stabil hemolisin "streptolisin S" yang menghasilkan lisis di udara ambien).
Contoh lain ditemukan dalam Streptococcus agalactiae dan Listeria monocytogenes. Untuk spesies ini, hemolisin mungkin sangat lambat diproduksi atau lemah reaktif. Terlihat hemolisis mungkin begitu halus bahwa itu hanya terlihat langsung di bawah koloni (bukan secara luas menyebar seperti pada S. pyogenes, di atas). Untuk membuktikan dan memvisualisasikan reaksi yang sangat lemah ini, koloni dapat dihapus dengan loop inokulasi, yang memungkinkan kita untuk melihat sel-sel lisis tepat di bawah di mana koloni telah berkembang.


Alpha hemolisis (α) disebut juga hemolisis sebagian, adalah penurunan hemoglobin sel darah merah untuk methemoglobin dalam medium sekitar koloni. Hal ini menyebabkan perubahan warna hijau atau coklat dalam medium. Warna dapat disamakan dengan "memar" sel. Pemeriksaan mikroskopis sel darah merah alpha-hemolyzed menunjukkan bahwa membran sel yang utuh, sehingga tidak, pada kenyataannya, lisis benar.
Beberapa penulis buku teks mengacu pada alpha sebagai "hemolisis parsial," yang mungkin membingungkan kepada peneliti. Hal yang paling penting agar tidak membingungkan hemolisis "parsial" atau "tidak sempurna" ini berbeda dengan hemolisis "lemah" atau "halus" seperti Streptococcus agalactiae atau Listeria monocytogenes yang terlihat di atas. Warna coklat atau hijau Beta hemolisis tidak akan meliputi atau menutupi sel-sel didalam medium sekitarnya. Pada inkubasi berkepanjangan, banyak organisme alpha hemolitik akan mulai muncul lebih jelas, tetapi jika media sekitarnya mengandunga atau tertutup salah satu warna coklat atau hijau "hemolisis" maka masih dianggap alpha hemolisis.

Gamma hemolisis (γ) disebut juga non hemolisis. Gamma menunjukkan kurangnya hemolisis. Seharusnya tidak ada reaksi dalam medium sekitarnya. "Gamma Streptococcus" atau Enterococcus faecalis (pada inkubasi 24 jam, non-hemolitik). "Gamma streptococcus" biasanya non-hemolitik setelah 24 jam inkubasi, namun banyak yang akhirnya menampilkan hemolisis alpha lemah.


Sumber http://www.microbelibrary.org/library/laboratory-test/2885-blood-agar-plates-and-hemolysis-protocols
20:281 Komentar
Jika kita melakukan analisa listeria monocytogenes dengan mengacu kepada metode ISO ISO 11290-1 Amd.1: 2004 maka media ALOA wajib digunaka. ALOA merupakan media selektif dan diferensial untuk isolasi Listeria spp, dari sampel makanan dan untuk identifikasi dugaan L. monocytogenes.

Media ALOA mengandung lithium klorida serta antimikroba dan antijamur yang digabungkan secara seimbang, yang berfungsi untuk meminimalkan pertumbuhan organisme pengganggu. ALOA mengandung substrat chromogenic X-glucoside (5-bromo-4-chloro-3-indolyl-β-D-glucopyrano) yang berfungsi untuk mendeteksi adanya beta-glucosidase yang terdapat pada Listeria spp. Selain itu ALOA juga mengandung substrat ( L - α - fosphatidylinositol ) yang berfungsi untuk mendeteksi enzim phosphatidylinositol phospholipase C (PI-PLC) yang dihasilkan L. monocytogenes dan beberapa strain L.ivanovii . Denagn adanya kombinasi dari kedua substrat tersebut , kita dapat membedakan antara koloni Listeria spp dengan koloni L.monocytogenes . Koloni Listeria spp tumbuh dengan warna hijau - biru , sedangkan koloni L.monocytogenes tumbuh dengan warna hijau - biru dikelilingi oleh halo opak.
koloni L.monocytogenes pada ALOA
Koloni L.ivanovii pada ALOA

Berdasarkan Penelitian recovery Listeria spp selain strain L. monocytogenes pada media ALOA setara dengan media Oxford dan PALCAM untuk L. innocua dan L. welshimeri. sedangkan untuk recovery L. ivanovii, L. seeligeri dan L. grayi pada ALOA berkurang jika dibandingkan dengan media Oxford Agar . Sdangkan pada media PALCAM Agar didapatkan yang paling penghambat terhadap 3 spesies ini (L. ivanovii, L. seeligeri dan L. grayi).

Semua Listeria spp diteliti menghasilkan koloni khas berwarna hijau - biru dengan diameter 1.0 - 2.0mm setelah inkubasi 24 jam pada suhu 37⁰C, dengan semua strain L. monocytogenes menghasilkan halo buram khas. Strain L. ivanovii juga menunjukkan halo yang intensif dengan inkubasi lebih lanjut. Strain non Listeria diteliti, hanya beberapa strain Bacillus cereus, dan Enterococcus faecium dapat tumbuh pada ALOA.

Kesimpulan
  • Media ALOA merupakan media selektif untuk listeria spp
  • Koloni listeria spp pada ALOA berwarna hijau-biru
  • koloni L.monocytogenes dan L. ivanovii pada ALOA berwarna hijau – biru dengan halo buram khas
  • Waktu inkubasi 24 jam pada suhu 37⁰C, jika koloni yang tumbuh sedikit/kurang (tidak ada koloni yang tumbuh) maka di inkubasi kembali selama 24 jam pada suhu 37⁰C
  • • Strain Bacillus cereus, dan Enterococcus faecium juga dapat tumbuh pada media ALOA


Copyright ©2013 Blog Analis Mikrobiologi - All Rights Reserved Design by SHUKAKU4RT - Proudly Powered by Blogger
Blog Analis Mikrobiologi